Sang Ulama
Kisah inspiratif tentang perjuangan seorang anak yang membulatkan tekad untuk menjadi ulama, pewaris ilmu nabi, demi memberikan manfaat bagi umat Islam.

Hidup,,, andai kau tak pernah diadakan
Pasti hanya kesunyian yang ada,,,
Maut,,, andai kau tak pernah diciptakan
Pasti hanya kebosanan yang tersisa
Cobaan,,, andai kau tak diberikan kepada manusia
Pasti hanya ada kesombongan dan keserakahan yang merajalela
Nikmat,,, andai kau tak terasa
Pasti tak akan ada rasa syukur yang terucap oleh kata
Seperti halnya sekarang,,,
Air mata,,, andai kau tak pernah mengalir
Pasti kini dadaku terasa sesak, hati akan selalu terasa hampa, segera berlalu lah wahai kesedihan,,,
Tak disangka kemarin, adalah malam terakhirku bersama sang pejuang. Teringat indah tutur nasehatnya ‘nak, jangan pedulikan segala omongan kasar orang lain yang ingin merendahkanmu, kejar impian dan cita-citamu, walau sesulit air tercampur dengan minyak dan atau bahkan bagai duduk di atas bara api’.
Gemetar di kaki makin membuatku lemas. Sukmaku seakan melayang. Rasanya tak kuat lagi menggerakkan sendi-sendiku saat jenazah ayah tercinta ku lewat di hadapanku. Kini akupun masih terus mengingat dan memikirkannya.
Ku terjang segala cobaan di hidupku ini. Ku terima segala taqdir yang tidak selalu hadir sebagaimana yang kuharapkan. Karena aku tak lain hanyalah seorang anak tunggal yang memang dari dulu hanya hidup bersama ayah sebatang kara. Ibuku sibuk kerja sampai seakan-akan dia tak pernah melahirkanku. Tapi aku masih mempunyai seseorang yang baik. Aku bertemu dengan beliau, kemudian beliau ingin mengurusi serta memberiku mukafaah untuk tinggal di pesantren beliau. Walau beliau sibuk karena profesinya sebagai ustadz dan mudir pesantren, aku harus selalu sigap dan yang pasti aku tak boleh merasa sendirian. Karena disana, mungkin aku akan bertemu dengan orang-orang yang bisa menerimaku dan memahamiku.
Setelah beberapa hari, kumulai melangkah tuk melanjutkan impian, impian menjadi sang ulama yang itu merupakan gelar istimewa di hidup seseorang menurutku. Mereka orang-orang yang mulia dan terpilih, karena hanya merekalah sang pewaris nabi dan rasul. Nabi dan rasul tak mewariskan harta, melainkan ilmu yang bermanfaat bagi umatnya di seantero dunia.
Kini ku telah berpijak di bumi pesantren. Langit malam yang sejuk nan indah, berhiaskan sinar rembulan terselubung awan mendung, hadir membawa kehampaan serta kesunyian yang sejuk di jagat pesantren. Terlihat di pojok ruang sempit nan tinggi, terdapat lemari kutub maktabah yang menjulang tinggi. Kuberharap tuk mengkhatamkan kitab-kitab tersebut. Karena mereka, aku bisa membawa bekal tuk kehidupanku nanti. Apalagi cita-cita yang sudah tertancap di sanubariku sejak lama, bahwa aku akan menjadi seorang ulama yang akan membawakan nama harum untuk umat islam ku ini. Selamat tinggal kehidupan lalu, kini ku akan melerai permusuhan atas kesedihanku sendiri dan kini ku akan mengejar impianku sebagai sang ulama, pewaris nabi dan rasul. Ku goreskan tinta bertitah semangat:
Aku bukanlah lembaran dalam buku yang bisa dilipat,
Bukan pula kata-kata yang diucap kemudian berakhir tanpa cerita,
Dan bukan pula waktu yang habis kemudian berlalu begitu saja.
Tetapi aku adalah seseorang hamba-Nya yang InsyaAllah bermanfaat bagi umat.
Dibelakangku umat menanti, di pundakku mereka menaruh kepercayaan. Kepercayaan tuk menuntun mereka kepada kesempurnaan agama mereka. Jangan biarkan mereka tersungkur serta terjatuh ke lubang kebodohan. Ku hembuskan nafas semangatku seraya berkata lirih, bismillah...

Azwa
Founder
Sepasang kekasih yang belajar mencintai tanpa melanggar batas-Nya. Bagi mereka, menulis adalah bahasa cinta yang suci — doa agar setiap kisah berlabuh di jalan yang diridhai Allah
Komentar Pembaca
Diskusi, masukan, dan faedah seputar artikel ini
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(HR. Al-Bukhari & Muslim) — Mari saling bertukar ilmu dan nasihat dengan tutur kata yang santun, sejuk, dan beradab.
Tinggalkan Komentar
Komentar akan ditinjau oleh redaksi sebelum ditampilkan ke publik untuk menjaga kenyamanan bersama.
Alhamdulillah! Komentar Anda berhasil dikirim.
Terima kasih telah berbagi faedah. Komentar Anda akan segera tampil setelah ditinjau dan disetujui oleh tim redaksi.
Gagal Mengirim Komentar
Terjadi kendala saat mengirim komentar. Mohon periksa isian Anda atau coba kembali beberapa saat lagi.
Rekomendasi Bacaan
Artikel Pilihan Lainnya
Lanjutkan membaca tulisan berbobot lainnya untuk memperkaya wawasan
ZINA MERAJALELA, UMAT HARUS WASPADA
Zina kini makin merajalela dan dianggap lumrah. Saatnya generasi muda bangkit menjaga diri lewat adab pandangan, circle pertemanan yang sehat, dan komitmen taubat.
GENERASI REBAHAN ATAU GENERASI BERIMAN?
Zaman boleh berubah, namun prinsip Islam tetap abadi. Mari berbenah diri menjadi generasi beriman yang melek digital namun tetap menjaga taat kepada Allah SWT.
PACARAN: MANIS DI CHAT, PAHIT DI AKHIRAT
Pacaran kerap dianggap bukti cinta, padahal bisa menjauhkan diri dari ridha Allah. Islam mengajarkan taaruf sebagai jalan menjaga kehormatan demi meraih cinta yang halal dan penuh berkah.
Dakwah Itu Gak Harus Ustadz Kok
Dakwah itu gak harus jadi ustadz. Anak muda bisa banget sebarkan kebaikan lewat media sosial dan amalan sehari-hari dengan niat tulus karena Allah.




Belum ada komentar
Jadilah yang pertama memberikan pandangan atau faedah yang bermanfaat untuk pembaca lainnya.