Pemuda Islam·3 menit membaca

Sang Ulama

Kisah inspiratif tentang perjuangan seorang anak yang membulatkan tekad untuk menjadi ulama, pewaris ilmu nabi, demi memberikan manfaat bagi umat Islam.

Azwa
Azwa
·Founder
Bagikan:
Seorang santri sedang khusyuk membaca kitab di perpustakaan pesantren yang tenang.
Semangat menuntut ilmu di pesantren | Dok. Upiman

Hidup,,, andai kau tak pernah diadakan

Pasti hanya kesunyian yang ada,,,

Maut,,, andai kau tak pernah diciptakan

Pasti hanya kebosanan yang tersisa

Cobaan,,, andai kau tak diberikan kepada manusia

Pasti hanya ada kesombongan dan keserakahan yang merajalela

Nikmat,,, andai kau tak terasa

Pasti tak akan ada rasa syukur yang terucap oleh kata

Seperti halnya sekarang,,,

Air mata,,, andai kau tak pernah mengalir

Pasti kini dadaku terasa sesak, hati akan selalu terasa hampa, segera berlalu lah wahai kesedihan,,,

Tak disangka kemarin, adalah malam terakhirku bersama sang pejuang. Teringat indah tutur nasehatnya ‘nak, jangan pedulikan segala omongan kasar orang lain yang ingin merendahkanmu, kejar impian dan cita-citamu, walau sesulit air tercampur dengan minyak dan atau bahkan bagai duduk di atas bara api’.

Gemetar di kaki makin membuatku lemas. Sukmaku seakan melayang. Rasanya tak kuat lagi menggerakkan sendi-sendiku saat jenazah ayah tercinta ku lewat di hadapanku. Kini akupun masih terus mengingat dan memikirkannya.

Ku terjang segala cobaan di hidupku ini. Ku terima segala taqdir yang tidak selalu hadir sebagaimana yang kuharapkan. Karena aku tak lain hanyalah seorang anak tunggal yang memang dari dulu hanya hidup bersama ayah sebatang kara. Ibuku sibuk kerja sampai seakan-akan dia tak pernah melahirkanku. Tapi aku masih mempunyai seseorang yang baik. Aku bertemu dengan beliau, kemudian beliau ingin mengurusi serta memberiku mukafaah untuk tinggal di pesantren beliau. Walau beliau sibuk karena profesinya sebagai ustadz dan mudir pesantren, aku harus selalu sigap dan yang pasti aku tak boleh merasa sendirian. Karena disana, mungkin aku akan bertemu dengan orang-orang yang bisa menerimaku dan memahamiku.

Setelah beberapa hari, kumulai melangkah tuk melanjutkan impian, impian menjadi sang ulama yang itu merupakan gelar istimewa di hidup seseorang menurutku. Mereka orang-orang yang mulia dan terpilih, karena hanya merekalah sang pewaris nabi dan rasul. Nabi dan rasul tak mewariskan harta, melainkan ilmu yang bermanfaat bagi umatnya di seantero dunia.

Kini ku telah berpijak di bumi pesantren. Langit malam yang sejuk nan indah, berhiaskan sinar rembulan terselubung awan mendung, hadir membawa kehampaan serta kesunyian yang sejuk di jagat pesantren. Terlihat di pojok ruang sempit nan tinggi, terdapat lemari kutub maktabah yang menjulang tinggi. Kuberharap tuk mengkhatamkan kitab-kitab tersebut. Karena mereka, aku bisa membawa bekal tuk kehidupanku nanti. Apalagi cita-cita yang sudah tertancap di sanubariku sejak lama, bahwa aku akan menjadi seorang ulama yang akan membawakan nama harum untuk umat islam ku ini. Selamat tinggal kehidupan lalu, kini ku akan melerai permusuhan atas kesedihanku sendiri dan kini ku akan mengejar impianku sebagai sang ulama, pewaris nabi dan rasul. Ku goreskan tinta bertitah semangat:

Aku bukanlah lembaran dalam buku yang bisa dilipat,

Bukan pula kata-kata yang diucap kemudian berakhir tanpa cerita,

Dan bukan pula waktu yang habis kemudian berlalu begitu saja.

Tetapi aku adalah seseorang hamba-Nya yang InsyaAllah bermanfaat bagi umat.

Dibelakangku umat menanti, di pundakku mereka menaruh kepercayaan. Kepercayaan tuk menuntun mereka kepada kesempurnaan agama mereka. Jangan biarkan mereka tersungkur serta terjatuh ke lubang kebodohan. Ku hembuskan nafas semangatku seraya berkata lirih, bismillah...

Azwa

Azwa

Founder

Sepasang kekasih yang belajar mencintai tanpa melanggar batas-Nya. Bagi mereka, menulis adalah bahasa cinta yang suci — doa agar setiap kisah berlabuh di jalan yang diridhai Allah

Komentar Pembaca

Diskusi, masukan, dan faedah seputar artikel ini

0Tanggapan

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”

(HR. Al-Bukhari & Muslim) — Mari saling bertukar ilmu dan nasihat dengan tutur kata yang santun, sejuk, dan beradab.

Belum ada komentar

Jadilah yang pertama memberikan pandangan atau faedah yang bermanfaat untuk pembaca lainnya.

Tinggalkan Komentar

Komentar akan ditinjau oleh redaksi sebelum ditampilkan ke publik untuk menjaga kenyamanan bersama.

Email dijaga kerahasiaannya dan tidak akan dipublikasikan.

0 / 1000

Hitung penjumlahan dasar berikut untuk membuktikan Anda manusia:

3+4=
Komentar yang santun mencerminkan kemuliaan akhlak.

Rekomendasi Bacaan

Lanjutkan membaca tulisan berbobot lainnya untuk memperkaya wawasan

Semua Tulisan