Di era bumi yang bertambah tua, yang katanya trend di tubuh mbah bumi bukannya berjalan hati-hati, eh malah semakin ngebut tak terkendali. Jangan ditanya bagaimana bumi bisa rusak. Siapa lagi yang merusakkan bumi kalau bukan penduduknya atau bisa dikata para generasinya?
Mari kita tilik dahulu, sebenarnya apa tujuan hidup manusia di bumi? Tujuan utamanya adalah agar manusia beribadah kepada Allah swt (QS Az-Zariyat: 56). Makna ibadah disini adalah tunduk dan patuh sepenuh hati kepada Allah, serta melandasi ibadah atas segala amal perbuatan yang titik tolaknya ikhlas kepada Allah, agar kita tak terlepas dari keridlaan Allah.
Lantas siapakah orang yang Allah tunjuk untuk mengajar serta membimbing segala aspek kehidupan tentang lika-liku ibadah? Tiada lain ialah sang baginda kita, nabi Muhammad shallallahu alami wa sallam, dengan hadirnya orang terpuji seperti beliau, apa impian beliau? Apa impian dari segala perih perjuangan yang beliau terpa? Impian yang tercurah dari segala lantunan berbagai ayat serta hadits yang telah beliau sampaikan? Jawabannya simpel dan mengena. Beliau senantiasa memohon kepada Allah dengan rayuan manja kepada rabbnya, ‘Ummati, Ummati,,,’ begitulah sekiranya impian beliau. Impian dari segala perihnya luka-luka perjuangan hanyalah cinta terhadap umatnya. Kecintaan dan kasih sayang Rasulullah pada umatnya lebih besar dibanding para nabi dan rasul sebelumnya.
Rasulullah tidak berkenan umatnya mendapatkan azab walaupun mereka menolak seruannya. Tapi Rasul justru mendoakan agar suatu saat nanti Allah Ta’ala memberikan mereka hidayah.
Saat itu Allah menyuruh nabi untuk bangkit dari sujudnya yang sangat panjang ‘Wahai Muhammad, apa yang kau inginkan?’, beliau menjawab dengan berlinangnya air mata, ‘Ya Allah, kumohon, selamatkanlah seseorang yang ada iman walaupun hanya sekecil biji kurma’, lalu Allah pun mengiyakan apa yang kekasih-Nya inginkan. Itu semua beliau lakukan atas dasar cintanya beliau kepada umatnya, sehingga yang beliau impikan selama ini, semoga Allah akan mengumpulkan umatnya semua bersama baginda nabi di Jannah-Nya kelak. Sekali lagi, betapa agungnya sifat dan watak beliau, impian beliau selama ini agar bisa berkumpul bareng di Jannah, karena cinta beliau yang begitu mendalam terhadap umatnya, apalagi umat yang belum pernah sama sekali beliau temui.
Dalam al-Qur’an sendiri telah bertebaran apa profesi Rasulullah ditakdirkan ada di dunia.
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (1)
Dan juga:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.(2)
Ungkapan arti rahmatan lil alamin adalah nabi Muhammad SAW diutus untuk menyebarkan rahmat ke seluruh alam semesta. Sebab, sebagaimana yang kita ketahui Allah SWT merupakan Tuhan penguasa seluruh alam. Sehingga, Allah SWT memberikan rahmat atau kasih sayangnya secara merata ke seluruh makhluknya yang ada di alam semesta.
Selain itu, syiar kebaikan agama Islam yang dibawakan oleh beliau juga tidak saja ditujukan pada kelompok tertentu, tapi untuk semua manusia yang ada di muka bumi ini. Potongan ayat tersebut juga menyiratkan bahwa Nabi Muhammad SAW menyebarkan ilmu agama Islam semata-mata berlandaskan kasih, bukan propaganda.
Hal itu semua tercermin dalam perilaku beliau sehari-hari. Bahkan dalam keadaan bahaya atau gentingpun, Rasulullah tetap menunjukkan dirinya sebagai seorang pembawa rahmat Allah SWT.
Jadi, bagaimanapun setiap gerak akan membawa perubahan, setiap langkah pasti akan mengubah posisi, walau tak terlihat mata. Manis buah akan terasa kala sempurna masaknya.
Selagi ada gerak dan langkah, perubahan adalah hal yang tepat tuk membenahi kerusakan bumi kita ini. Karena tak lain, jika kita baik-baik saja apalagi dalam hal ibadah mahdhah atau ghoiru mahdhah, maka bumi akan ikut baik-baik saja. Berapa banyak musibah terjadi entah gempa, banjir, tsunami, dan lain-lain itu disebabkan karena maksiat? Disebabkan karena Allah murka kepada penduduk bumi yang sering terlena akan segalanya kuasa-Nya?
Maka langkah-langkah mendekatkan diri pada Sang Pencipta agar apa yang diinginkan baginda nabi dapat terwujud ialah:
- Menjalankan ibadah dengan benar.
- Menghidupkan sunnah-sunnah yang sudah mati, semisal baca Allahu Akbar ketika naik jalan yang menanjak, dan subhanallah ketika turun. (3)
- Menghormati yang lebih besar dan menyayangi yang lebih kecil. (4)
- Dan lain sebagainya.
Wallahu A’lam bish showab.
- Q.S. at-Taubah; 128.
- Q.S. al-Anbiya; 107.
- HR.Bukhari 2993.
- HR. At-Tirmidzi no. 1842 dari shahabat Anas bin Malik.






