Jalan Sunyi Menuju Halal: Ketika Menunggu Menjadi Ibadah
Aisyah (bukan nama sebenarnya) adalah seorang mahasiswi yang dikenal cerdas dan taat. Hatinya telah lama tertambat pada Ahmad, seorang aktivis dakwah di kampusnya. Ahmad adalah sosok yang diidamkan banyak wanita: berilmu, santun, dan memiliki visi hidup yang jelas. Namun, hubungan mereka tetap terjaga dalam batas-batas syariat: tidak ada komunikasi pribadi yang tidak perlu, tidak ada janji-janji palsu, dan tidak ada upaya “pendekatan” yang melanggar batas.
Fase Pertama: Cobaan Hati dan Bisikan Setan
Seiring waktu, rasa kagum Aisyah berubah menjadi harap. Ada kalanya, bisikan setan datang menggoda, menyuruhnya mencari cara untuk menarik perhatian Ahmad.
“Bukankah wajar mencari tahu kabar orang yang kamu kagumi? Hanya sekali chat, tidak apa-apa,” bisik hati Aisyah.
Namun, ia selalu teringat pada prinsipnya: Cinta sejati haruslah dimuliakan, bukan dicemari. Ia memilih jalan yang sunyi dan berat, yaitu menunggu dalam ketaatan. Setiap kali rindu itu datang, ia tidak melampiaskannya pada layar ponsel. Sebaliknya, Aisyah segera bangkit dan melakukan dua hal:
- Mengadu pada Rabb: Ia mengambil air wudu, melaksanakan salat Tahajud, dan mencurahkan semua harapannya di hadapan Allah.
- Memperbaiki Diri: Ia sadar, jika ia memang berharap jodoh yang baik, ia harus menjadi pribadi yang baik pula. Ia fokus meningkatkan ilmu agamanya, menghafal Al-Qur’an, dan berbakti pada orang tua.
Aisyah berpegang teguh pada kalam Allah:
{ٱلْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَٱلْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَٱلطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَٱلطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ}
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).” (QS. An-Nur [24]: 26).
Prinsipnya jelas: Menunggu bukan berarti pasif, tetapi aktif memperbaiki diri. Ia yakin, jika Ahmad memang jodohnya yang terbaik, Allah pasti akan mendekatkan mereka di waktu yang tepat dan cara yang halal. Jika tidak, Allah pasti telah menyiapkan yang jauh lebih baik untuknya.
Fase Kedua: Keajaiban di Sepertiga Malam
Tahun berlalu, dan Aisyah telah menyelesaikan kuliahnya. Ia telah menjadi pribadi yang jauh lebih matang, tenang, dan bersinar. Rasa kagumnya pada Fatih telah diubah menjadi doa tulus, tanpa ada lagi unsur menuntut. Ia telah sepenuhnya memasrahkan urusan jodohnya kepada Allah. Suatu malam, setelah salat Tahajud, Aisyah berdoa dengan keharuan:
“Ya Allah, jika Ahmad adalah yang terbaik untuk menemaniku beribadah kepada-Mu, mudahkanlah. Jika bukan, cabutlah rasa ini dan gantilah dengan yang lebih Engkau ridhai. Hamba hanya memohon yang halal, ya Rabb.”
Tak lama setelah itu, di pagi yang cerah, telepon rumah Aisyah berdering. Ayahnya memanggil Aisyah dengan wajah bahagia.
“Nak, ada tamu. Dia ingin bertemu Ayah dan Ibu,” kata Ayah.
Aisyah terkejut. Di ruang tamu, duduklah seorang Ahmad, ditemani oleh pamannya. Ahmad datang bukan untuk basa-basi atau perkenalan, tetapi untuk tujuan yang jelas: melamar.
Hikmah di Balik Penantian Suci
Dalam pertemuan singkat yang diawasi oleh Ayah Aisyah, Ahmad menjelaskan alasan mengapa ia tidak pernah mencoba mendekati Aisyah selama ini.
“Saya menyaksikan ketakwaan Aisyah dari jauh. Justru karena kemuliaan akhlaknya, saya tidak berani mencemarinya dengan janji-janji palsu. Saya sadar, saya harus melengkapi diri dan memenuhi tanggung jawab sebelum berani mengetuk pintu ini. Penantian ini adalah ujian kesabaran dan keikhlasan saya. Alhamdulillah, Allah mengizinkan saya untuk datang hari ini.”
Aisyah menunduk, air matanya menetes haru. Ia tidak membuang waktunya untuk cemas, kecewa, atau melanggar syariat. Ia menggunakan waktu penantiannya untuk berinvestasi pada dirinya, pada agamanya, dan pada hubungannya dengan Allah. Masyaallah…
Cinta suci yang dinanti dalam ketaatan, akan selalu berujung pada kebahagiaan yang penuh berkah. Kisah Aisyah mengajarkan bahwa menunggu bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan iman yang tertinggi. Ia berhasil mengubah masa-masa “menunggu doi” menjadi masa emas untuk mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Hati.
Saat semua cinta menunggu tabuh…
Cinta ini tak kubiarkan berlabuh…
Biarkan ia menggembara jauh…
Telah kulambaikan sepenggal doa…
Pada jingga awan di saat senja…
Kulepas rasa sakit yang kian menyapa dada…
Pada lembaran putih di hamparan sendu…
Kugores setiap tinta syahdu…
Untuk melukisnya rasa yang telah kulumat semu…
Dalam kesemuan hampa…
Kutinggalkan ia karena menunggu ridho-Nya…
Kutuntun dalam langkah penuh asa…
Kulukis ia indah dalam doa…
Telah ku pasrahkan penantian atas segalanya…
Pada hamparan sajadah dan tengadahku setia…
Ku sungguh bermaksud tuk menungguunya..
Meski ku tak tahu akankah waktu bertahan tuk menjaganya…
Sungguh ia adalah siksaan yang manis, namun ku terlalu takut tuk merasakannya…
Ilahi, berikan waktu untukku…
Jangan Kau berikan kenangan hati terindah itu tersiksa…
Diri ini telah merasakan bagaimana tersiksa oleh rindu yang membara…
Keyakinan ku kini, semua yang terbaik pasti akan terjadi…
Saat cinta yang menunggu ini hiasi hati…
Biarlah taqdir yang menjawab kepastian diri…





