Kisah-Kisah Keharuan Sang Pembawa Rahmat Lil’Alamin; Nabi Muhammad SAW
Dalam sejarah kemanusiaan, tidak ada pribadi yang lebih sempurna, agung, dan dicintai melebihi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau adalah pemimpin yang bijaksana, panglima perang yang tak terkalahkan, seorang suami, ayah, dan sahabat terbaik. Namun di balik keagungannya, ada sisi kemanusiaan yang begitu mendalam: hati yang lembut, penuh kasih sayang, dan mudah terharu. Air mata beliau bukanlah tanda kelemahan, melainkan cerminan dari rahmat yang meliputi seluruh alam semesta.
Mari kita selami beberapa kisah yang menunjukkan betapa mulianya hati beliau, hingga air mata pun tak sanggup dibendung:
1. Keharuan Terhadap Kesedihan Umat: Saat Doa tak Tertahan
Pernah suatu ketika, Nabi Muhammad SAW membaca kalam Allah dalam Al-Qur’an tentang Nabi Ibrahim yang berdoa agar umatnya diampuni, dan Nabi Isa yang berdoa bagi mereka yang patuh. Hati beliau yang penuh cinta kepada umatnya langsung tergugah. Beliau mengangkat kedua tangannya, berdoa dengan mata yang berlinang air mata: “Umatku, umatku!”
Melihat keharuan yang begitu dalam, Jibril AS datang bertanya, “Mengapa engkau menangis, wahai Muhammad?” Allah SWT mengetahui alasan tangisan beliau, namun Allah ingin menunjukkannya kepada Jibril. Jibril kemudian kembali kepada Nabi dengan membawa kabar gembira dari Allah: “Wahai Muhammad, sungguh Kami akan membuatmu senang tentang umatmu, dan Kami tidak akan membuatmu sedih.” (HR. Muslim).
Betapa agung kasih sayang seorang pemimpin yang tak pernah berhenti memikirkan keselamatan umatnya, bahkan hingga meneteskan air mata haru dan rindu akan syafaat untuk mereka.
2. Tangisan Seorang Ayah: Kehilangan Buah Hati
Cinta seorang ayah kepada anaknya adalah fitrah. Nabi Muhammad SAW pun mengalaminya. Ketika putra beliau, Ibrahim, meninggal dunia pada usia muda, hati beliau hancur. Diriwayatkan bahwa beliau memeluk jasad kecil putranya, air mata mengalir membasahi pipi.
Seorang sahabat bertanya, “Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab dengan suara parau, “Mata ini meneteskan air mata, hati ini bersedih. Namun, kita tidak akan mengucapkan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Sesungguhnya kami bersedih atas kepergianmu, wahai Ibrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Momen ini mengajarkan bahwa kesedihan adalah bagian dari fitrah manusia, bahkan bagi Nabi sekalipun. Namun, kesedihan itu diiringi dengan kesabaran, keimanan, dan keridhaan terhadap ketetapan Allah. Air mata itu adalah ungkapan cinta, bukan penolakan terhadap takdir.
3. Empati untuk Setiap Makhluk: Keharuan atas Penderitaan
Bukan hanya kepada manusia, hati Nabi juga bergetar karena empati terhadap makhluk lain. Pernah suatu hari, beliau melewati seekor unta yang kurus kering dan kelelahan. Unta itu melihat Nabi, lalu mengeluarkan suara sedih dan air matanya pun berlinang.
Nabi SAW segera mendekati unta itu, mengelus punggungnya, dan bertanya kepada pemiliknya, “Tidakkah engkau takut kepada Allah pada hewan ini yang telah Allah jadikan milikmu? Sesungguhnya unta ini mengadu kepadaku bahwa engkau membiarkannya lapar dan kelelahan.” (HR. Abu Dawud).
Keharuan Nabi yang membuat unta itu mengadu adalah bukti nyata betapa rahmat beliau meliputi seluruh alam. Beliau tidak hanya memimpin manusia, tetapi juga mengajarkan pentingnya welas asih dan keadilan terhadap setiap ciptaan Allah.
4. Menangis Haru karena Al-Qur’an: Cahaya yang Menembus Jiwa
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Setiap kali beliau membacanya atau mendengarkannya, hati beliau akan tersentuh. Pernah suatu kali, beliau meminta Abdullah bin Mas’ud untuk membacakan Al-Qur’an. Ketika sampai pada surat An-Nisa ayat 41: “Maka bagaimanakah (keadaan orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan engkau (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).”
Nabi SAW mengisyaratkan, “Cukup sampai di sini.” Abdullah bin Mas’ud melihat wajah Nabi dan mendapati air mata beliau mengalir deras. Beliau terharu membayangkan hari Kiamat, di mana beliau akan menjadi saksi atas umatnya, sebuah tanggung jawab yang begitu besar dan agung. (HR. Bukhari dan Muslim).
Hikmah Air Mata Seorang Nabi
Kisah-kisah keharuan Nabi Muhammad SAW ini bukanlah sekadar catatan sejarah, melainkan pelajaran berharga bagi kita. Air mata beliau mengajarkan kita tentang:
- Empati Sejati: Merasakan dan berbagi kesedihan orang lain, bahkan makhluk lain.
- Kasih Sayang Tiada Batas: Cinta kepada umat, keluarga, dan seluruh ciptaan.
- Kekuatan dalam Kelembutan: Bahwa seorang pemimpin yang kuat bukanlah yang tanpa emosi, melainkan yang hatinya peka dan mampu merasakan.
- Kerendahan Hati: Meskipun beliau adalah Nabi yang paling mulia, beliau tetap menunjukkan sisi kemanusiaannya.
- Keteguhan Iman: Dalam setiap kesedihan, beliau tetap berserah diri dan ridha kepada ketetapan Allah.
Semoga dengan merenungkan air mata dan keharuan Nabi Muhammad SAW, hati kita semakin lembut, rasa cinta kita kepada beliau semakin dalam, dan kita semakin terinspirasi untuk meneladani akhlak mulia Sang Pembawa Rahmat bagi Semesta Alam.
Belum kering air mata umat, namun cinta Nabi tetap mengalir,
menuntun hati yang letih untuk kembali mengenal kasih sejati…






